Monthly Archives: October 2020

Mahadewi adalah Beberapa Contoh Sebutan yang Kita Kenal Saja

Mahadewi adalah Beberapa Contoh Sebutan yang Kita Kenal Saja

Terdengar aneh, meskipun sebenarnya tidak ada yang melarang, kalau ada kata mahacaleg, mahasopir, mahakenek, dan mahapartai. Namun kesimpulan tentang masa lampau itu ternyata keliru juga karena kita mengenal istilah mahasiswa, mahaguru, dan mahakarya. Hanya, kalau maha digabungkan dengan presiden, menjadi mahapresiden, kita akan mengernyitkan dahi karena merasa aneh atau geli. Ada raja, ada maharaja, ada patih, ada mahapatih semua terdengar wajar. Patih adalah sebutan bagi orang yang mempunyai ilmu kanuragan tinggi, pintar, halus budi tutur kata, bisa sebagai wakil utusan raja. Kanuragan adalah ilmu bela diri yang bertumpu pada kekuatan adikodrati.

Di zaman lampau dikenal kata mahaduta, sekarang kita biasa menyebutnya duta besar. Di zaman yang belum jauh lampau, patih adalah jabatan administratif sebagai kepanjangan tangan raja. Di zaman Majapahit, hanya Gajah Mada yang diberi sebutan Mahapatih. Kita tidak usah berlama-lama di masa lampau, kembali saja ke masa kini untuk membicarakan mahasiswa, mahasiswi, dan mahaguru. Siswa adalah orang yang mengikuti proses pembelajaran dengan maksud mengembangkan potensi dirinya pada tingkat pendidikan menengah. Kita juga menggunakan kata ”murid” yang berlaku untuk mereka yang baru belajar di taman kanak-kanak dan sekolah dasar. Begitu masuk ke jenjang pendidikan tinggi, label lulusan sekolah menengah diganti menjadi mahasiswa dan, tidak tahu mengapa, bukan mahamurid. Siswa kemudian diganti menjadi peserta didik, pengertian yang tentu mencakup jenis-jenis siswa lain, seperti santri, cantrik, warga belajar, dan pelajar label-label yang disangkutkan ke berbagai jenis dan jenjang pendidikan.

Website : kota-bunga.net

Perhatikan, hanya siswa yang berhak disebut maha dan, karena itu, tidak kita kenal label mahasantri atau mahacantrik. Ada mahasiswa, ada mahaguru. Guru adalah pengajar di sekolah dasar sampai sekolah menengah. Tidak ada perbedaan antara yang mengajar di sekolah rendah dan sekolah menengah. Guru di pendidikan tinggi disebut dosen, tapi kita tidak mengenal istilah ”mahadosen”. Tentu karena bingungnya menyebut guru yang maha ini, kita lebih sering menyebutnya profesor mungkin karena profesor lebih mudah dicantumkan sebagai gelar seseorang: ada Profesor Sapardi, tapi tidak ada Guru Besar Sapardi (tidak sebab orang itu kurus). Namun lembaga yang isinya otak pendidikan tinggi biasanya disebut dewan guru besar dan bukan dewan profesor. Mungkin keinginan untuk memberi label setepattepatnya itulah yang antara lain menggeser-geser ”maha” sebagai bentuk terikat dalam bahasa Indonesia, meskipun media yang memuat karangan ini tidak mau menyebut dirinya ”mahaenak dibaca dan mahaperlu”.

Pertunjukan Teater yang Digelar atas Hibah Yayasan

Pertunjukan Teater yang Digelar atas Hibah Yayasan

Anwari berusaha mekoreografer Parmin Ras Surabaya pernah membuat karya dengan menggebuk batu bata di panggung sehingga membuat panggung penuh ”asap”. Tapi mungkin materi batu kapur putih Madura (bhato kempung) baru Anwari yang menggunakan. Batubatu putih itu bisa menjadi keunikan tersendiri. Yang diharapkan adalah bagaimana Anwari bisa menyajikan kejutan tak terduga bertolak dari kekuatan dan kelemahan batu kapur itu. Kita lihat para aktor saling melempar dan menangkap batu. Ada adegan satu per satu batu ditata jadi tumpukan agak tinggi. Lalu batu-batu itu diserakkan dan kemudian ditata lagi. Ada adegan para aktor memecah batu. Ada adegan para santri menggigit pecahan batu.

Juga para aktor membentuk pagar batu sekeliling. Seorang aktor mencoba memancing ketawa penonton dengan mempermainkan ketiaknya yang bisa menimbulkan bunyi. Pentas yang menarik ini bisa lebih intens dan ”meneror” apabila variasi dan interaksi antara para aktor berkopiah hitam dan batu kapur itu lebih beragam. Lempar tangkap batu itu, misalnya, bisa dieksplorasi lebih jauh. Adegan seorang perempuan menggoreng remah-remah batu di atas wajan, lalu mengelilingi para aktor pria sembari memukul wajan dan mengguyurkan remah-remah itu ke tubuh mereka, belum bisa dikatakan mencekam. Juga tatkala para aktor berpeci itu mengajak penonton masuk ke area batu, tidak ada permainan batu yang melibatkan penonton.

Sepanjang pertunjukan, hantaman, pecahan, pukulan batu, atau tatkala gilis diputarputar belum menjadi bunyi-bunyian yang bisa memperkaya sayatan cadas gitar dan tiupan saronen. Adegan demi adegan, walhasil, belum dibina menjadi klimaks yang mengejutkan. Tatkala para ”santri” itu memecahkan batu ke dahi, adegan tersebut seperti sebuah adegan sepintas lalu. Belum mampu membawa kita ke sebuah imajinasi tentang rasa keperihan tubuh para penambang. Tubuh-tubuh penambang tradisional yang setiap hari memiliki risiko tertimbun tanah longsor. Menyajikan sebuah karya yang sama dari luar ruangan yang ”eksotis” seperti tempat penambangan kapur ke sebuah pendapa tentu harus dengan perhitungan-perhitungan dramatik dan provokasi yang berbeda.