Mahadewi adalah Beberapa Contoh Sebutan yang Kita Kenal Saja

Mahadewi adalah Beberapa Contoh Sebutan yang Kita Kenal Saja

Terdengar aneh, meskipun sebenarnya tidak ada yang melarang, kalau ada kata mahacaleg, mahasopir, mahakenek, dan mahapartai. Namun kesimpulan tentang masa lampau itu ternyata keliru juga karena kita mengenal istilah mahasiswa, mahaguru, dan mahakarya. Hanya, kalau maha digabungkan dengan presiden, menjadi mahapresiden, kita akan mengernyitkan dahi karena merasa aneh atau geli. Ada raja, ada maharaja, ada patih, ada mahapatih semua terdengar wajar. Patih adalah sebutan bagi orang yang mempunyai ilmu kanuragan tinggi, pintar, halus budi tutur kata, bisa sebagai wakil utusan raja. Kanuragan adalah ilmu bela diri yang bertumpu pada kekuatan adikodrati.

Di zaman lampau dikenal kata mahaduta, sekarang kita biasa menyebutnya duta besar. Di zaman yang belum jauh lampau, patih adalah jabatan administratif sebagai kepanjangan tangan raja. Di zaman Majapahit, hanya Gajah Mada yang diberi sebutan Mahapatih. Kita tidak usah berlama-lama di masa lampau, kembali saja ke masa kini untuk membicarakan mahasiswa, mahasiswi, dan mahaguru. Siswa adalah orang yang mengikuti proses pembelajaran dengan maksud mengembangkan potensi dirinya pada tingkat pendidikan menengah. Kita juga menggunakan kata ”murid” yang berlaku untuk mereka yang baru belajar di taman kanak-kanak dan sekolah dasar. Begitu masuk ke jenjang pendidikan tinggi, label lulusan sekolah menengah diganti menjadi mahasiswa dan, tidak tahu mengapa, bukan mahamurid. Siswa kemudian diganti menjadi peserta didik, pengertian yang tentu mencakup jenis-jenis siswa lain, seperti santri, cantrik, warga belajar, dan pelajar label-label yang disangkutkan ke berbagai jenis dan jenjang pendidikan.

Website : kota-bunga.net

Perhatikan, hanya siswa yang berhak disebut maha dan, karena itu, tidak kita kenal label mahasantri atau mahacantrik. Ada mahasiswa, ada mahaguru. Guru adalah pengajar di sekolah dasar sampai sekolah menengah. Tidak ada perbedaan antara yang mengajar di sekolah rendah dan sekolah menengah. Guru di pendidikan tinggi disebut dosen, tapi kita tidak mengenal istilah ”mahadosen”. Tentu karena bingungnya menyebut guru yang maha ini, kita lebih sering menyebutnya profesor mungkin karena profesor lebih mudah dicantumkan sebagai gelar seseorang: ada Profesor Sapardi, tapi tidak ada Guru Besar Sapardi (tidak sebab orang itu kurus). Namun lembaga yang isinya otak pendidikan tinggi biasanya disebut dewan guru besar dan bukan dewan profesor. Mungkin keinginan untuk memberi label setepattepatnya itulah yang antara lain menggeser-geser ”maha” sebagai bentuk terikat dalam bahasa Indonesia, meskipun media yang memuat karangan ini tidak mau menyebut dirinya ”mahaenak dibaca dan mahaperlu”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *