Pertunjukan Teater yang Digelar atas Hibah Yayasan

Pertunjukan Teater yang Digelar atas Hibah Yayasan

Anwari berusaha mekoreografer Parmin Ras Surabaya pernah membuat karya dengan menggebuk batu bata di panggung sehingga membuat panggung penuh ”asap”. Tapi mungkin materi batu kapur putih Madura (bhato kempung) baru Anwari yang menggunakan. Batubatu putih itu bisa menjadi keunikan tersendiri. Yang diharapkan adalah bagaimana Anwari bisa menyajikan kejutan tak terduga bertolak dari kekuatan dan kelemahan batu kapur itu. Kita lihat para aktor saling melempar dan menangkap batu. Ada adegan satu per satu batu ditata jadi tumpukan agak tinggi. Lalu batu-batu itu diserakkan dan kemudian ditata lagi. Ada adegan para aktor memecah batu. Ada adegan para santri menggigit pecahan batu.

Juga para aktor membentuk pagar batu sekeliling. Seorang aktor mencoba memancing ketawa penonton dengan mempermainkan ketiaknya yang bisa menimbulkan bunyi. Pentas yang menarik ini bisa lebih intens dan ”meneror” apabila variasi dan interaksi antara para aktor berkopiah hitam dan batu kapur itu lebih beragam. Lempar tangkap batu itu, misalnya, bisa dieksplorasi lebih jauh. Adegan seorang perempuan menggoreng remah-remah batu di atas wajan, lalu mengelilingi para aktor pria sembari memukul wajan dan mengguyurkan remah-remah itu ke tubuh mereka, belum bisa dikatakan mencekam. Juga tatkala para aktor berpeci itu mengajak penonton masuk ke area batu, tidak ada permainan batu yang melibatkan penonton.

Sepanjang pertunjukan, hantaman, pecahan, pukulan batu, atau tatkala gilis diputarputar belum menjadi bunyi-bunyian yang bisa memperkaya sayatan cadas gitar dan tiupan saronen. Adegan demi adegan, walhasil, belum dibina menjadi klimaks yang mengejutkan. Tatkala para ”santri” itu memecahkan batu ke dahi, adegan tersebut seperti sebuah adegan sepintas lalu. Belum mampu membawa kita ke sebuah imajinasi tentang rasa keperihan tubuh para penambang. Tubuh-tubuh penambang tradisional yang setiap hari memiliki risiko tertimbun tanah longsor. Menyajikan sebuah karya yang sama dari luar ruangan yang ”eksotis” seperti tempat penambangan kapur ke sebuah pendapa tentu harus dengan perhitungan-perhitungan dramatik dan provokasi yang berbeda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *