Langkah Membentuk Identitas Gender Bag2

Melalui berbagai mainan dan bermain peran, kita bisa menanamkan rasa empati pada anak laki-laki kepada anak perempuan dan sebaliknya. Selain itu, kenalkan anak pada beragam mainan lain yang tidak menjurus pada gender tertentu atau netral. • HINDARI DISKRIMINASI GENDER

Baca juga : Beasiswa s2 Jerman

Sering, kan, dalam tayangan teve atau buku-buku dilukiskan, ibu bertugas di dapur sedangkan ayah bekerja kantoran; ibu begitu perhatian mengurus anak-anaknya sedangkan ayah asyik menonton teve. Ini yang dimaksud sebagai bentuk diskriminasi gender. Padahal, untuk mendapatkan konsep diri yang positif, sejak dini anak perlu diberikan penjelasan secara proporsional mengenai ke setaraan dan kemitraan antara laki-laki dan perempuan. Bila laki-laki boleh bekerja di kantor, perempuan pun boleh. Bila ayah ingin turun ke dapur, tidak berarti ia jadi tampak feminin.Pada dasarnya setiap orang perlu makan dan karenanya harus bisa mengolah makanan.

Ketika Anak Menunjukkan Gejala Lgbt

YANG TAK BOLEH DILAKUKAN ORANG TUA: • Langsung mencap anak sebagai pendosa, memojokkan, dan menghukumnya. Hal ini hanya membuatnya menjauh dari orangtua karena telanjur merasa ditolak lingkungan, termasuk orangtuanya. Pertahanan diri anak yang belum kuat, sampai tahap tertentu akan membuatnya stres, depresi, dan pada beberapa kasus malah jadi penyebab kasus bunuh diri. Perasaan ditolak juga menempatkan anak pada posisi no where to run alias buntu.

Mau tak mau, ia mencari teman senasib yang bisa menerima keadaannya. Ia pun jadi berpikir, dunia heterogen tidak adil baginya, jadi lebih baik bersama teman yang “sama”. • Memaksa anak bergabung ke lingkungan tertentu kendati maksudnya baik. Misal, anak laki-laki dipaksa ikut bela diri atau anak perempuan diharuskan ikut kursus pengembangan kepribadian. Pemaksaan hanya membuat anak berontak dan bukan tak mungkin malah mencari teman “senasib” di lingkungan barunya itu.

YANG BISA DILAKUKAN ORANGTUA: • Bersikaplah arif. Pahami, anak juga tak mau dirinya jadi berbeda. • Introspeksi diri, apa yang salah dengan hubungan orangtua anak, sehingga anak mencari “kedamaian” di luar yang kita harapkan. • Ajak anak bicara dari hati ke hati , bantu dia mengeluarkan perasaannya, dan ulurkan bantuan. Sikap orangtua yang terbuka, berempati, dan bersedia bersama-sama mencari jalan keluar, jutsru akan menyelamatkan keadaan.

Sumber : https://ausbildung.co.id/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *