Monthly Archives: November 2021

Ancaman di Balik Perut Buncit Bag6

Kesimpulan ini didapat setelah Lopez dan timnya menganalisis data survei nasional sebanyak 15.184 orang dewasa berusia 18-90 tahun di Amerika. Setelah perkembangan orang-orang itu diikuti selama 14 tahun, 3.222 kematian ditemukan pada mereka yang berat badannya ideal tapi lemaknya berlebih di perut. Di Indonesia, perut buncit disebut dengan obesitas sentral.

Karena tak bisa langsung diraba dari luar, tumpukan lemak visceral bisa diketahui dengan pemeriksaan magnetic resonance imaging (MRI) atau computed tomography (CT) scan. Dari situ akan diketahui letak gumpalan lemak di perut, termasuk lemak visceral. Tapi ada juga cara yang lebih murah, yakni dengan mengukur lingkar perut. ”Pasti terasa kalau perutnya buncit,” ujar Kasim.

 

Belajar Mencari Teman

Sekitar usia 2 tahun, anak akan mulai mengembangkan minat sosialnya. Tetapi untuk dapat menjalin pertemanan, ia membutuhkan bantuan Mama Papa. Yuk, kita bantu. Saskia tampak anteng bermain boneka. Tak jauh darinya, Irma juga sedang bermain boneka. Usia keduanya terpaut hanya beberapa hari. Sama-sama perempuan.

Baca juga : Kerja di Jerman

Namu kok setelah beberapa kali menghabiskan waktu bersama, Saskia dan Irma masih saja asyik bermain sendiri-sendiri. Apa yang dilakukan Saskia dan Irma, oleh para ahli disebut sebagai bermain paralel. Artinya, anak bermain dengan anak lain tetapi tidak melakukan interaksi. Ada pula yang dikenal dengan bermain kooperatif, di sini anak bermain dengan saling berinteraksi. Menurut Titi Sahidah, dosen dan psikolog dari Fakultas Psikologi Universitas YARSI Jakarta, semakin mendekati usia TK (4 tahun), ke cenderungan bermain kooperatif akan semakin tinggi.

Meski demikian, tak menutup kemungkinan si kecil adalah sebagian dari anak yang lebih senang menyendiri dan menarik diri dari lingkup pergaulan. Ia tidak mau membuka diri dan terlihat cemas ketika harus berinteraksi dengan orang lain. Kondisi ini dikenal dengan social withdrawal, yaitu kecenderungan untuk menyendiri, disertai dengan kecemasan, ketika berhadapan dengan teman sebaya atau orang dewasa yang tidak familiar. GENETIK VS LINGKUNGAN “Social withdrawal dapat terjadi karena faktor genetis dan lingkungan,” jelas psikolog yang akrab dipanggil Titis ini.

Seperti halnya dengan jenis rambut, tinggi badan, dan warna kulit yang diwariskan pada anak, kecemasan juga merupakan hal yang diwariskan dari generasi ke generasi. Pada saat dilahirkan, anak telah membawa temperamen atau kecenderungan biologis dalam hal perilaku. Anak-anak dengan temperamen cemas kemungkinan lebih besar u ntuk menampilkan perilaku menarik diri secara sosial.

Namun, faktor lingkungan, yaitu gaya pengasuhan, juga memegang peranan penting dalam berkembangnya social withdrawal. Melalui lingkunganlah, anak belajar tentang kecemasan dari orangtua, pengasuh, atau orang-orang terdekat lain. Bila anak melihat orangtuanya sering kali menunjukkan rasa cemas, anak pun akan belajar menampilkan perilaku yang sama. Lebih jauh lagi, orangtua yang cenderung cepat cemas, akan memiliki kemampuan terbatas untuk mendorong anaknya mencoba hal -hal baru.

Sumber : https://ausbildung.co.id/